Pendidikan Karakter: Tips Di Rumah
Posted by admin on 6th May and posted in umum
“Anak SD membunuh temannya sendiri di sekolah.” Banyak orang tua yang terhenyak mendengarnya. Ada apa gerangan yang terjadi? Mengapa semakin hari berita di tv atau media lain menginformasikan betapa makin brutalnya perilaku anak-anak sekarang. Benarkah ini hanya bombastis media saja, atau memang benar karakter bangsa ini sedang menuju titik terrendah. Apakah media memberikan pendidikan karakter yang justru menghancurkan karakter anak-anak dengan pemberitaan ini?
Orang tua yang memiliki tugas melindungi anak-anak saat ini harus bisa memberikan alat perlindungan kuat bagi anak agar mampu survive kapan saja dimana saja. Dengan demikian dibutuhkan adanya pengetahuan tentang pendidikan karakter yang bisa dilakukan di rumah.
Ini beberapa tips bagi orang tua untuk memberikan pendidikan karakter di rumah.
- Jadilah model bagi anak
Sebenarnya menjadi model di sini bukanlah orang tua menjadikan diri sebagai model bagi anak karena peran itu belum dilakukan. Melainkan semua orang tua adalah model bagi anak. Ini harus disadari penuh oleh orang tua, perilaku orang tua adalah satu referensi pertama dan terpenting bagi anak. Oleh sebab itu mulailah menata diri. Mengubah diri sendiri lebih mudah dari pada mengubah orang lain dan lingkungan. Milikilah karakter yang diinginkan tumbuh dalam diri anak, stidaknya berusahalah. Menurut Megawangi (2003) anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter, sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang segara optimal.
- Jalin kedekatan dengan anak
Jalinan kedekatan mulai terbentuk pada saat persalinan. Di sini mulai terbentuk apa yang dinamakan dengan Maternal bonding (kelekatan psikologis dengan ibunya). Maternal bonding merupakan dasar penting dalam pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan dalam pembentukan dasar kepercayaan kepada orang lain (trust) pada anak. Menurut Erikson, dasar kepercayaan yang ditumbuhkan melalui hubungan ibu-anak pada tahun-tahun pertama kehidupan anak akan memberi bekal bagi kesuksesan anak dalam kehidupan sosialnya ketika ia dewasa. Dengan kata lain, ikatan emosional yang erat antara ibu-anak di usia awal dapat membentuk kepribadian yang baik pada anak.
Maternal bonding harus mulai dibangun pada satu jam awal kelahiran. Lakukanlah inisiasi menyusui dini. Salah satu yang dilakukan rumah sakit atau bidan pada saat bayi lahir adalah meletakkan bayi di perut ibu, dan membiarkannya mengeksplorasi dada ibu sampai menemukan puting susu dan menete.
Jalinan kedekatan harus tetap dijaga dengan seluruh anggota keluarga. Ini dapat dilakukan dengan melakukan komunikasi yang efektif. Seringlah mendengarkan anak-anak bercerita, mengeluh, atau melaporkan kejadian yang mereka alami.
Buatlah sebuah rutinitas keluarga untuk saling berbagi cerita. Apakah itu saat berkumpul menjelang makan malam, setelah selesai sholat shubuh, atau waktu-waktu lain yang dianggap tepat.
- Memberikan kejelasan aturan
Karakter berkaitan dengan nilai-nilai yang dibiasakan lingkungannya. Lickona (http://www.goodcharacter.com) menjelaskan bahwa karakter yang baik melibatkan mengetahui, menginginkan, dan melakukan kegiatan-kegiatan yang baik dan ditunjukkan dengan kebiasaan berpikir, merasa, dan berbuat.
Untuk membentuk karakter anak yang kuat, dibutuhkan adanya kejelasan dan kekonsistenan aturan dalam lingkungan, dalam hal ini aturan dalam keluarga (rumah). Pada dasarnya, tugas dasar perkembangan seorang anak adalah mengembangkan pemahaman yang benar tentang bagaimana dunia ini bekerja. Dengan kata lain, tugas utama seorang anak dalam perkembangannya adalah mempelajari ”aturan main” segala aspek yang ada di dunia ini.
Dengan kejelasan dan kekonsistenan aturan dalam keluarga, anak menjadi tahu dengan pasti, tidak ragu, tentang perilaku apa yang harus ia tampilkan. Bila perilaku ini diulang-ulang maka akan menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan inilah yang akan membuahkan karakter.
- Memberikan tanggung jawab sesuai usia anak
Setiap anggota keluarga mendapatkan tugas yang menjadi tanggungjawabnya. Jelaskan kepada seluruh anggota keluarga tentang tugas masing-masing, dan bagaimana tugas itu dilaksanakan dan dievaluasi. Laksanakanlah dengan bimbingan orangtua. Bersabarlah saat pertama kali menerapkan hal ini, karena pasti banyak protes dari anak-anak. Mungkin selama seminggu penuh anak-anak akan melakukan tugas mereka sambil bersungut-sungut. Lakukanlah curhat keluarga berkaitan dengan pembagian tugas ini. Jelaskan dengan bijak, karena wajar apabila mereka mengerjakan tugas sambil marah-marah karena belum memahami hal ini.
Pemberian tugas rumah pada setiap anggota keluarga, termasuk ayah-ibu tentunya, akan menumbuhkan rasa tanggungjawab pada diri anak. Seperti pengertian karakter menurut Josephson(http://www.goodcharacter.com) bahwa karakter adalah bagaimana seseorang berbuat ketika yang bersangkutan berpikir tak ada orang lain yang melihatnya. Sebuah perilaku yang dilandasi karakter adalah perilaku yang bertanggungjawab, dan dilakukan untuk kepentingannya, sehingga perilaku yang baik tidak hanya muncul karena ada orang yang melihatnya, tapi karena adanya tanggungjawab dan keinginan untuk melakukannya.
Empat tips di atas adalah hal yang sederhana, jika kita memang melakukannya dengan sebuah kesadaran bahwa pendidikan karakter adalah kebutuhan dan tanggungjawab orang tua terhadap anak-anaknya. Tapi kalau dua hal ini tidak ada, maka melaksanakan empat tips ini akan menjadi berat, karena memang mebutuhkan kesabaran, kekonsistenan, dan kesungguhan.
Selamat mencoba!





